Minggu, 31 Juli 2011

Bulan Juli


Ketika saya membuat postingan ini ,saya teringat pada sebuah film yang pernah saya lihat. Film itu berjudul JULI DI BULAN JUNI film yang menceritakan tentang perjuangan seorang wanita yang mengidap penyakit disleksia ,gangguan kemampuan mengenal huruf dan angka yang disebabkan karena faktor genetic dari orang tuanya.
Sebenarnya postingan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan penyakit disleksia ,saya menulis postingan ini karena teringat ketika pacar menghubungi saya via telefon marah-marah dengan alasan saya yang tidak membalas Short Message Service sehabis pergi dengan ibu saya kemarin malam. Setelah puas dengan alasan-alasan yang  saya katakan dan akhirnya mau sedikit mengalah ,tiba-tiba saya teringat sesuatu dan bertanya
Aku : “Inget gag ,seminggu yang lalu setelah kita berantem kamu pernah tanya sama aku ‘kenapa ya kita sering berantem akhir-akhir ini?padahal sekarang kita jadi lebih sering ketemu dibanding dulu atau karena kita sering ketemu jadi berantem terus??’ ,sekarang giliran kita lama gag ketemu kita juga berantem.Napa bisa gitu ya??” ,pacar diam.
Pacar :  “kemarin aku juga punya pikiran begitu. Apa gara-gara ini bulan Juli ya?? kita sering banget berantem bulan ini.”
Waktu itu saya ketawa kemudian berkata dalam hati ‘Kenapa harus bulan Juli yang disalahkan??’ ,kalau memang waktunya berantem ya berantem aja ,bukan berarti ada kesalahan dibulan Juli atau mungkin  bukan berarti Juli bukan bulan untuk kami. Mungkin pada saat itu dia lupa ( baca ; pacar ) pada bulan yang sama ,bulan Juli dia memberikan sebuah cincin yang sama dengan milik dia dengan ukiran tanggal ,bulan ,tahun hari jadi kami dan ukiran namanya dengan mengatakan keseriusannya di sebuah tempat makan yang menurut dia pada saat itu romantis dan itu terjadi pada awal bulan Juli.
Ini adalah persamaan pacar dengan film yang saya sebut diatas ( Juli dibulan Juni-red ) ,didalam fim ini Juli nama tokoh utamanya membenci bulan Juni karena bulan Juni adalah bulan ketika ibunya meninggal karena kanker, bulan ketika ia didrop out oleh kepala sekolahnya, bulan ketika ia divonis disleksia yang susah disembuhkan, dan terakhir Juni merupakan bulan ia ditinggalkan sahabat yang selama ini menerimanya dan berusaha memberikan perhatian lebih. Itulah sebab mengapa Juli benci bulan Juni. Perbedaannya hanya pada bulannya saja.
Meskipun pacar tidak secara langsung mengatakan dia membenci bulan Juli ,tapi setidaknya dia tetap menyalahkan bulan Juli sebagai bulan penuh masalah dalam relationship kami. Hal yang konyol bagi saya sebenarnya ketika menyalahkan bulan sebagai penyebab dari permasalahan-permasalahan yang kami alami. Bagi saya ini adalah garis yang diciptakan semesta untuk kami agar kami lebih berfikir dewasa dalam menghadapi masalah yang diciptakan semesta secara bersama. Tentu saja garis adalah masalah kami dan semesta adalah takdir. Bukan bulan ,bukan siapapun ,dan bukan apapun yang harus disalahkan tapi lebih berfikir mengapa ada sebuah masalah dan bagaimana cara penyelesaiannya. Sulit memang menyatukan dua kepala dalam satu prinsip yang sama ,apalagi dua kepala itu adalah saya dan dia ( baca ; pacar ) yang notabene sama-sama berlatar belakang keras kepala. Pada dasarnya  seperti susunan organ kepala kita pada bagian dalam ada otak dan teman-temannya yang sifatnya lunak dan pada bagian luar adalah tulang-tulang yang memiliki sifat keras berfungsi sebagai pelindung bagian dalam ,paling tidak itu sudah menggambarkan sifat alamiah manusia ‘sekeras apapun hatinya ,pasti akan ada waktunya untuk melunak’. Percaya atau tidak semua itu semesta yang membuatnya.
Mungkin bagi Juli ( tokoh dalam film-red ) menyalahkan bulan Juni hanya sebagai pelampiasan kemarahannya karena banyaknya masalah yang bertubi-bertubi datang dibulan itu ,mungkin begitu juga dengan dia (pacar-red ) melampiaskan dan menyayangkan banyaknya masalah yang datang pada bulan ini. Saya sendiri bukan berarti tidak setuju dengan anggapan tersebut karena pada saat yang sama tentu saja dibulan Juli saya juga mengalami tekanan-tekanan yang sama dalam kehidupan saya meskipun pada akhirnya saya tidak mempercayai anggapan tersebut karena saya masih memiliki Tuhan sebagai tempat harapan-harapan saya. Saya yakin kalaupun memang bulan Juli sebagai penyebabnya ,pasti kita tidak ingin bertemu bulan Juli disetiap tahun ,walaupun kita sebenarnya tidak dapat menghindarinya dan saya masih yakin bulan Juli masih sama seperti bulan-bulan yang lainnya ,meskipun ada masalah tapi bukan mereka yang menjadi faktor penyebabnya.  Seperti kutipan sebuah kalimat dalam film JULI DIBULAN JUNI ‘Yang paling penting adalah bagaimana kita bangun pagi, tarik napas, buang napas dan di antara keduanya kita harus yakin kita bisa hidup. Tiap hari, tiap minggu, tiap bulan’ dan bagaimana mencari penyelesaian yang terbaik dalam permasalahan yang kita terima dan diantaranya kita harus yakin kita bisa menyelesaikannya tiap hari ,tiap minggu ,tiap bulan bahkan dari tahun-tahun.
Dan pada akhirnya saya berharap dihari berakhirnya bulan Juli ini ,dan berlanjut ke bulan-bulan yang lain akan ada penyelesaian dalam setiap masalah yang kami hadapi.
Dan ternyata setelah saya fikirkan kembali saya memutuskan untuk menulis status diakun pertemanan saya 'Semoga ini benar-benar karena bulan JULI:') ,dan seorang teman memberikan sebuah comment balasan 'Ciao Juli' tanda bulan Juli berakhir.
Sungguh aneh.

Sabtu, 30 Juli 2011

i love you momsky ...


Malam ini tidak seperti malam-malam minggu yang sebelum-sebelumnya menghabiskan waktu bersama ibu saya , 'MOMSKY' saya biasa menyebutnya meninggalkan rutinitas kebanyakan malam minggu lainnya 
( baca ; pergi dengan pacar atau dengan teman ) sedikit memaksanya karena beliau beralasan capek sehabis bepergian hari ini dan akhirnya berhasil menculiknya.

Dimulai dari warung steak kegemarannya ( Momsky-red ) berada di pinggir jalan yang dulu ketika saya masih duduk di sekolah dasar sangat sepi sekarang menjadi ramai akibat ulah para penjual makanan-makanan ,kami duduk berhadapan bersama dengan pembeli-pembeli yang lain yang ternyata secara tidak sengaja saya perhatikan mereka rata-rata berpasang-pasangan entah itu bersama teman ,saudara ,pacar atau mungkin selingkuhan.
Sepanjang kami menunggu makanan yang kami pesan ,Momsky bercerita tentang perjalanannya hari ini saat beliau  berkunjung ke tempat saudara. Sepertinya semangatnya malam ini kembali muncul ketika beliau bercerita tentang kedatangannya yang katanya disambut sangat menyenangkan ( karena tiba disana sudah siap sajian istimewa ala kampung -ayam kampung ,nasi panas ,lalapan plus sambel super pedas ). Sayangnya karena hari ini ada kesalahan teknis pada organ bagian perut saya ,saya tidak dapat menemaninya bepergian padahal kepulangan saya minggu ini sebenarnya untuk itu.
Makananpun akhirnya datang kami mulai menikmati makanan yang kami pesan dengan selera masing-masing sambil mendengar beliau berkata 
Momsky ( saya singkat M ) : Kemana Wimby ,lama gag kerumah dek??. ,hampir saja tersedak ketika menelan makanan tapi untungnya masih bisa dikendalikan.
Aku ( singkat A ) : Makasar. ,singkat jelas padat setidaknya beliau tahu kalau anaknya malas berbicara tentang topik sensitive ini. Tapi sayangnya beliau tak mengerti.
M : Loo .. kapan berangkat?? ,pantes kamu pulang gag keliatan!.
A : Rabu ,besok acara kemana?? ,sengaja mengalihkan topik.
M : Nyekar papa ,kangen sama papa ,kamu di rumah aja jaga rumah.Abis itu mau jalan ayook. Trus kapan pulangnya?.
A : Minggu kalo gag Senin.
M : Kirain berantem. 
Astaga .. percakapan selanjutnya lebih susah dipercaya.

M : Kemarin om cerita katanya gini ,mudah-mudahan besok kalo Nisa (anaknya om-red ) udah besar bisa dapat calon pegawai negri.
A : wew ... ( dalam hati 'bahaya ni!' ).
M : Terus aku jawab kalo aku sekarang terserah anakku aja trauma sama yang dulu ,mau itu pegawai negri atau wiraswasta yang penting bagus buat masa depan dia ( yang dimaksud aku-red ) nyaman ,seneng.
A : manggut-manggut bingung.
M ; Sekolah dululah dek ,selesaiin dulu cita-citanya gag usah buru-buru ,belum tentu nikah muda bahagia ,gag usah dengar omongan orang yang penting kamu sama mama udah cukup.
A : ya.
M : Kalo masalah calon difikir nanti ,kalo ada yang mau tunggu ya suruh aja tunggu sampai kuliah selesai ,gag usah bingung jodoh pasti datang kapan aja.
A : Garuk-garuk kepala.

Sehabis makan dengan menu nasehat dari ibu untuk anak gadisnya ,perjalanan dilanjutkan ke Department Store ( boleh sebut merk gag ya?? ). Liad baju-baju menjelang lebaran ,sedikit merayu minta dibelikan tetapi hanya diberi janji nanti dan nanti padahal baru menerima gaji ke-13 ,sial. Menghampiri deretan-deretan sandal dan sepatu cantik dan saya benar-benar tergiur tapi sayang saya sedang tidak ada uang untuk membelinya dan akhirnya justru Momsky yang membeli sepasang sendal padahal tadi siang beliau sudah membeli sepasang sendal di central kerajinan kulit langganannya ( baca; mupeng ) ,kemudian kami beranjak ke Toko Buku lantai atas ,mengitari rak-rak buku berjejer rapi ternyata beliau membeli sebuah buku resep kue kering yang saya fikir tidak ada gunanya mengingat beliau punya berpuluh-puluh resep makanan yang kadang bahkan tak tersentuh sama sekali kemudian membayarnya di kasir.
Saya lantas mengajaknya membeli es krim disebelah Toko Buku ,dan ternyata beliau memesan es krim juga kemudian bertanya kepada saya

Momsky : Apa itu dek?? ,sambil menunjuk ke arah kiri saya.
Aku : Oo .. serabi cimut.
Momsky : Enak gag ya dek??.
Aku : Lumayanlah ..  
Momsky : Emang udah pernah??
Aku : Udah sama Mendho ( baca : keceplosan )
Momsky : Oo .. sama Wimby. coba yuk! ,sambil berjalan kearah penjual serabi meninggalkan saya yang termenung karena keceplosan tadi.

Akhirnya kami duduk di tempat yang disediakan ,sama seperti tempat yang dulu saya dan pacar pakai sekitar seminggu yang lalu sambil berfikir ternyata anak dan ibu sama saja hobi makan dan sebenarnya takut gemuk. Ketika kami sedang mengobrol tentang rasa serabi yang kata Momsky agak sedikit dipaksakan ,tiba-tiba datang seorang ibu-ibu yang ternyata teman arisan Momsky entah yang darimana menghampiri kami ,ikut duduk disamping Momsky mengaku sedang bersama saudaranya di Toko Muslim melihat Momsky dan memutuskan menghampiri kami,
Percakapan selanjutnya ..

Teman Momsky ( saya singkat TM ) : Ini bu anaknya yang kuliah di Solo?.
M : Ya ,ini ,sambil tersenyum memndang saya.
TM : Cantiknya ,libur to??.
M : Gag ,Senin udah balik ke Solo masuk kuliah 3hari.
TM : Kalo punya anak cowok ,udah tak minta jadi calon mantu ya mbak. ,sambil ketawa.
A : Senyum ( untung gag punya anak cowok ).
Dan berlanjut ke percakapan ibu-ibu seperti biasanya yang saya tidak mengerti sama sekali.

22.00 malam ,kami memutuskan pulang meskipun akhirnya tidak pulang karena mampir ke alun-alun untuk membeli molen dan onde-onde serta sate tahu pesanan mbak ,masih berlanjut ke stadion yang saya fikir menyesal kenapa saya lewat sini karena jalannya yang ramai luar biasa sampai akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Di perjalanan dering handphone berbunyi 3x ,dan saya tahu siapa yang menghubungi saya ( sapa lagi kalo bukan pacar ) ,Momsky melihatnya dan menawarkan diri untuk memberikan pesan singkat ,mau tak mau saya menyetujuinya dan Momsky tertawa ketika membaca dengan keras pesan singkat balasan dari pacar.Fiuuuhh..
Menginjakkan kaki di rumah ,Momsky mendengar bunyi nasi goreng 'tok-tok' langganan mbak lebih tepatnya ,menawari saya apakah saya mau makan lagi atau tidak dan anehnya saya mengIYAkan dengan perasaan tidak berdosa ,lupa akan berat badan yang bertambah dari hari ke hari ,akhirnya memesan 1 nasi goreng pedas ,1 mie rebus dan kami makan bersama sambil menonton acara televisi sambil sesekali mengobrol.

Malam ini saya tersadar begitu banyak malam yang seharusnya saya bisa luangkan dengan beliau ,mendengarkan keluh kesahnya ,bertukar fikiran dan cerita ,beradu argumentasi dan masih banyak lagi. Andaikan keegoisan rutinitas masing-masing sedikit dihilangkan mungkin masih banyak lagi malam-malam seperti ini.

Mom ,thanks for your wishes ,love and support to me and i promise make you and dad proud me 
i promise. 

Rabu, 27 Juli 2011

Relationship

Bagaimanapun saya menyadari bahwa siapapun ( mau itu artis ,anak pejabat ,orang biasa ataupun anak presiden ) yang menjalin sebuah relationship pasti pernah mengalami masalah dalam hubungan mereka. Begitu pula saya dan dia.
Saya baru menyadari 8bulan bukan waktu yang cukup lama untuk bisa saling beradaptasi satu sama yang lain ,walaupun secara tidak langsung kami sudah cukup lama mengenal satu sama lain. Terkadang saya tak mengerti apa yang dia inginkan atau terkadang dia tak mengerti apa yang saya inginkan.

Seperti hari ini ,saya merasa dia tidak mengerti saya sama sekali.
Masalah demi masalah hilir menghantui sepanjang hari saya. Entah karena saya kurang memberi sesajen karena mereka (masalah-red) terus menghantui saya atau karena saya terlalu tergesa-gesa menghadapinya.
Pagi ini dimulai dengan rutinitas biasa bangun pagi tidak terlalu terlambat ,gosok gigi cuci muka ,sembari menunggu secangkir cappucino buatan mama yang selalu ada saat saya dirumah ,saya mencoba mengecek email yang masuk berharap ada kabar baik dari pembimbing proposal saya seperti yang dijanjikannya kemarin malam. Ketika email saya terbuka '1email belum dibaca' begitu mata saya menangkap tulisan dilayar leptop saya membukanya dengan tidak sabar ,lalu membacanya dengan ( sangat dan teramat pelan ,takut ada yang terlewatkan ) ;

"Dyah sayang ,maav ya saya terpaksa harus mencarikan pengganti saya untuk membantumu menyelesaikan proposal karena saya positif akan melanjutkan studi s2. Saya mohon dengan sangat pengertiannya ,saya akan tetap bertanggung jawab untuk mencarikan pengganti saya sampai pertengahan Agustus ,insyaallah saya akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik daripada saya untuk kamu. Kalaupun ada kesulitan dalam proposal kamu bisa menghubungi saya ,saya dengan senang hati akan tetap membantu sebisa saya. Sekali lagi saya minta maav dan mohon pengertiannya."


Begitulah sebuah permohonan maav dan sebuah janji.
Miris rasanya.
Sesaat saya merasa jatuh dari langit dan terhempas begitu saja ke bumi.Bingung ,mendadak kepala pusing saya memutuskan untuk mandi berharap air bisa mendinginkan kepala saya.

Pukul menunjukan jam8 lewat ,tak ada sebuah pesan baru dihandphone yang saya harapkan seperti biasanya ,saya kembali mengaktifkan akun pertemanan saya. Terkejut pasti ketika sebuah nama yang tidak asing untuk saya sedang berada dalam obrolan dunia maya. Marah pasti ,dengan rasa sebal saya mengirim sebuah pesan singkat bernada ketus "gag ada ucapan selamat pagi ni?? ,sesibuk itu ya??yaudah selamat pagi aja.". Begitulah saya tanpa pikir panjang dan tanpa basa-basi. Dering handphone berbunyi ,agak lama saya mengangkatnya ( baca; sengaja ) dari sana terdengar sebuah suara penjelasan. Tak mau kalah ,dengan nada bicara  malas saya menjawab alakadarnya. Dari sebrang terdengar nada bicara mulai tinggi ,sampai akhirnya komunikasi terputus.

"Ntar kalo udah gag malas ge sms ntar aku telfon aja.." ,saya membaca pesan singkat darinya. Berfikir-fikir sampai memutuskan untuk tidak membalasnya. Beranjak siang saya mencoba mengirim sebuah pesan singkat ,tapi lagi-lagi hanya jawaban-jawaban yang standart dan pada akhirnya tidak ada balasan kembali. Sorenya masih sama seperti tadi tapi dia yang mengawali sebuah percakapan yang pada akhirnya saya kembali harus menangis dalam hati ketika membaca balasan yang begitu ketus.  Begitu seterusnya hingga malam hari tidak ada kabar dan saya yang memutuskan untuk memulainya terlebih dulu ,tapi tak ada sedikitpun kata menyesal dari balsan pesan-pesan singkatnya sampai dia kembali menghubungi saya via telefon. Dan percakapan-percakapan ketus kembali terjadi.

Begitulah dia yang selalu beralasan 'tidak tahu bila saya tidak memberi tahu' ,alasan yang saya sebenarnya sudah capek untuk mendengarnya ,padahal paling tidak saya sudah memberi tahu kemarin malam dan tadi pagi lewat pesan singkat dan pada akhirnya dia menyesal.

Inilah persamaan saya dan dia ,kami sama-sama egois ,sama-sama ingin dimengerti tapi tidak bisa mengerti satu sama lain. Bedanya saya tahu apa yang dia mau ( meskipun terkadang saya tidak menuruti apa yang dia mau ,karena saya masih egois ) tapi dia tidak akan tahu apa yang saya mau  kalau saya TIDAK memberitahunya terlebih dahulu.Tragis ...
Sampai selarut malam ini saya masih diam dan berfikir ,mencoba merenungkan relationship yang kami jalani, Rasanya seperti bertepuk sebelah tangan ,ketika kita berusaha bersusah payah untuk mengerti pasangan kita tapi sebaliknya pasangan kita tidak mencoba untuk mengerti kita. Ketika saya sedang dalam kesulitan sebesar apapun itu ( seperti saat ini-red ) ,dia yang tetap saya inginkan untuk berada disamping saya membisikan kalimat-kalimat yang saya harapkan. Dan meskipun dia jauh berada dalam jangkauan saya setidaknya dia yang tetap saya cari untuk menghibur saya. Seperti kata-kata yang saya tulis dalam status akun pertemanan saya;


'The one thing you want to do is understand the people close to you. Pliss support them and show them that they can count on you.'

dan hari ini saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan ,tapi sekali lagi saya menggumam dalam hati 'Bagaimanapun dia saya tetap mencintainya!'