Sejak saya masih duduk di sekolah dasar saya memang sudah tidak pandai dalam hal berhitung ,meskipun saya hafal perkalian dan selalu masuk dalam sepuluh besar di kelas tapi entah kenapa nilai pelajaran berhitung saya yang paling rendah.
Ketika saya duduk di kelas tiga sekolah dasar ,saya pernah mendapat nilai ‘satu’ untuk ulangan harian di pelajaran matematika dan angka ‘seratus’ untuk pelajaran bahasa inggris. Ironis memang ,saat itu saya terlihat seperti salah satu murid yang terlihat sangat bodoh di antara teman-teman lain. Saya juga ingat waktu itu wali kelas saya pernah memanggil saya menanyakan keadaan saya ,menanyakan kondisi kesehatan saya dan kondisi keluarga saya padahal pada saat itu saya baik-baik saja.
Sama halnya ketika saya masuk ke sekolah menengah pertama yang waktu itu adalah sekolah favorit ,rata-rata nilai saya dari kelas satu sampai tiga nilai terjelek dalam hasil ujian-ujian saya yang paling rendah adalah matematika. Dan sialnya saya mendapatkan mata pelajaran akutansi di kelas tiga dan itu artinya saya harus lebih keras lagi untuk bersahabat dengan hitungan.
Ujian akutansi lebih mengerikan daripada harus menghadapi sepuluh soal matematika. Kita harus menghitung laba ,rugi ,debit ,kredit ,saldo dan segala macamnya. Saya yang memang malas berhubungan dengan ‘hitungan’ lebih sering pergi ke kantin atau mengantar teman ke UKS ( Unit Kesehatan Sekolah ) karena bosan di minta maju ke depan untuk mengerjakan tugas-tugas dari guru semakin terlihat bodoh di antara teman-teman yang lain. Seminggu sebelum ujian akutansi ,saya adalah orang yang paling paranoid di antara teman-teman yang lain. Takut tidak bisa mengerjakan ,takut mendapat nilai jelek dan takut bila mengikuti ujian ulang sendiri. Salah seorang teman baik saya menawarkan jasanya untuk membantu saya belajar akutansi menjelang ujian. Dan saya benar-benar berterima kasih atas bantuannya.
Mulai dari belajar bersama di rumah teman baik saya ,sampai dia ( baca ; teman saya ) merelakan menginap di rumah saya kami belajar mati-matian. Saat itu saya benar-benar yakin ,kalau saya pasti mendapatkan nilai yang bagus sama seperti teman-teman yang lain.
Tepat di hari dimana ujian berlangsung , masing-masing mendapat dua lembar untuk soal dan untuk jawaban. Ketika saya membuka soal dan mulai membacanya ,saya bingung. Duapuluh menit pertama lembar jawaban saya masih kosong. Mencoba mengingat sesuatu yang saya dan teman pelajari sepertinya sia-sia ,saya lupa mungkin karena apa yang saya pelajari sudah hilang bersamaan dengan kepanikan saya. Tigapuluhlima menit kemudian otak saya berfikir keras ,saat itu saya berfikir paling tidak harus ada tulisan dalam lembar jawaban saya. Dan satu-satunya cara adalah lewat teman yang ada di bangku kanan saya mengingat di sebelah kiri saya adalah dinding. Sedikit memaksanya untuk memberikan jawabannya pada saya dan merayunya membelikan semangkok bakso dia menunjukan lembar jawabannya. Butuh waktu limabelas menit saya menyalinnya di lembar jawaban saya ,dan akhirnya saya bisa tersenyum lega.
Seminggu kemudian lembar jawaban di bagi ,ketika nama saya di panggil dan saya maju ke depan kelas. Sambil memberikan lembar jawaban milik saya ,guru saya memandang saya dengan pandangan yang aneh. Kaget bukan main ‘sembilanpuluhtiga’ angka yang tertera di pojok kiri lembar jawaban saya. Sedikit berdecak heran ,ini keajaiban buat saya. Spontan saya menanyakan kepada Diki ( teman yang memberikan saya jawaban saat ujian ) berapa nilai yang dia peroleh ,dia menunjukan lembar jawaban yang dia punya dan hasilnya ‘limapuluhlima’ yang dia dapatkan. Ada yang tak beres begitu pikir saya saat itu. Jelas itu membuat Diki marah ,mengingat dia yang memberikan jawabannya kepada saya tapi justru saya yang mendapatkan nilai yang baik. Dan saya ingat betul sampai sekarang Diki tidak mau berbicara kepada saya hampir satu minggu penuh.
Saya memang tidak menyukai apapun yang berhubungan dengan hitungan.
Termasuk ketika saya berada di sekolah menengah ke atas ,dan sampai kuliah. Malang tak dapat diraih untung tak dapat ditolak ,di tingkat kuliah saya mengambil jurusan yang berhubungan dengan hitungan. Saya harus mengulang mata kuliah yang berhubungan dengan hitungan ,di antaranya KALKULUS hampir seperti matematika tapi lebih sulit. Susah memang memiliki sedikit keterbatasan di luar kepandaian saya dalam menghafal teori.
Masih sama ternyata ,dan saya benar-benar menyadari ketidak mampuan saya bahwa saya memang kurang dalam hal hitungan. Dan saya masih bertanya-tanya “Siapa yang menemukan Hitungan??” dan sampai hari ini saya tidak tahu jawabannya sama seperti pertanyaan untuk diri saya sendiri “Mengapa saya begitu bodoh dalam hal hitungan??” .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar