“Aku tau hubungan ini ,tak seperti membalikkan telapak tangan. Tak bisa semudah yang kita bayangkan. Apalagi untuk bertahan.” Ucapku kepadanya sambil menghela nafas.
Pemandangan ramai lalu lalang orang sedikit membuatku tak nyaman sore itu ketika akhirnya kami memutuskan untuk bertemu dan berbicara tentang hubungan kami yang sedang rumit akhir-akhir ini.
“Lantas apa kita tak mencobanya?apa kita hanya diam dengan keadaan seperti ini?.”lanjutku sambil memandangnya.
“Sama-sama sudah besar ,sudah dewasa tak perlulah seperti ini. Membuat semakin rumit.”jawabnya sembari memalingkan wajahnya kearah luar tempat makan yang kami kunjungi.
Begitulah dia ,pria tinggi berbadan tegap berkulit coklat dihadapanku selalu terlihat acuh bila menghadapi masalah.
“Justru karena itu ,kenapa tak ada ujungnya masalah ini!!.”teriakku mulai kesal.
“Dalam berhubungan hal yang paling menyakitkan adalah bertahan. Bertahan untuk satu prinsip. Bertahan yang terbaik untuk kita.”kataku sambil terisak.
“A relationship have’nt you or me ,but a relationship have OUR. Do you think about it?.”tanyaku padanya.
“Yes ,I do. I hope so ..”jawabnya singkat.
“Thanks GOD ,kamu masih berfikir yang sama denganku.”jawabku sedikit lega.
Aku mulai memperlihatkan senyumku padanya. Meskipun sebenarnya itu ku lakukan karena terpaksa. Tapi sayangnya aku tak melihatnya tersenyum ,membalas senyumanku pun tidak. Dia sibuk dengan pesan singkat dihandphone pribadinya.
“Sabar ..”lirih aku berbisik pada diriku sendiri.
Iri rasanya melihat benda kecil berwarna hitam yang selalu menjadi pusat perhatiannya setiap waktu.
“Sekarang aku harus bagaimana?.”tanyanya sambil meletakkan handphone diatas meja.
“Tidak ada yang harus aku dan kamu lakukan ,tapi yang harus KITA lakukan. Tidak ada salahnya KITA belajar dari setiap kesalahan yang KITA buat. Itu wujud dari intropeksi masing-masing.”
“Bukankah kamu pernah bilang bahwa mendapatkan lebih mudah dibandingkan mempertahankannya?. Sama halnya dengan hubungan kita. Begitu mudah kita mendapatnya tapi sulit kita mempertahankannya. Dan kamu lupa kita masih ada satu dua tiga tahun dan tahun-tahun kedepan untuk menghadapinya bersama.”jelasku panjang lebar.
Agak sedikit lama menunggu responnya ,tapi senyum lebar tersungging dibibirnya itu sudah menjadi jawaban buatku.
“Ya ,kamu benar sayang … .”sambil menganggukkan kepalanya lalu kemudian dia mencium keningku.
“Ahh .. kemana saja senyum itu ,kemana saja panggilan sayang itu. Lama aku menunggunya ,TUHAN.”ucapku dalam hati sambil memberikan seutas senyum bahagia dihadapannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar