Minggu, 25 Maret 2012

Karena kau bukan aku ...

Ku pandangi layar handpone di tanganku. Rasanya ingin ku hapus semua pesan singkat yang kau kirim untukku. Berkali-kali aku menarik nafas panjang ketika membaca pesanmu ,berkali-kali pula aku menghembuskan nafas mengumpulkan sisa-sisa kesabaran.

Dering telfon mulai berbunyi. “Maav .. saya sedang bermusuhan dengan handphone” ,gumamku pada saat itu. Bukan bermusuhan dengan handphone lebih tepatnya tapi dengan orang yang menghubungi. Sekali lagi ku pandangi benda hitam di atas tempat tidur ,ya ampun jangankan untuk mengangkat menyentuhnya saja berat ,melihatnya saja menyakitkan mata menguras energi yang sebenarnya sudah banyak berkurang.

Jam 01.36 ,waktu begitu cepat berlalu hari saja sudah berganti tapi mata masih saja belum mau di pejamkan. Ku raih handphone yang sengaja ku letakkan di samping boneka kesayanganku ,membuka kembali semua pesan yang kau kirim ,kembali membacanya satu persatu. Seperti penderita diabetes tipe dua yang memiliki luka yang sulit untuk kering ,bedanya luka ini jelas terukir di hati.

“Haaaahh .. aku butuh insulin berupa pengertian dari kamu ,aku butuh sedikit insulin berbentuk pengorbanan dari kamuu!!!” ,jeritku dalam hati.  
“Percuma DIA yang-biasa-mengatakan-aku-menyayangimu tak akan mendengar jeritan hatimu”,hela nafas itu kembali terdengar. 

Aku batu kamu besi ,sudah jelas perbedaan unsurnya. Sekalipun ada air yang mengikisnya pasti perlu waktu yang lama. Lantas berapa lama lagi waktu yang kau perlukan untuk mengertiku? Bukan hanya jawaban tapi pembuktian yang selama ini aku tunggu. Lelah hari ini datang bersamaan dengan datangnya rasa jenuh. Jenuh karena harus menunggu ,lelah karena harus bersabar ,lelah karena q yang harus mengerti ,lelah karena kau tak pernah tahu bagaimana perasaanku. Ini kah awal dari persamaan yang dulu sering terucap? Beginikah sikap kedewasaan yang bahkan KITA tak pernah sadar sama sekali bahwa KITA tak pernah memiliki sikap itu ketika sedang bertengkar? Kapankah egois itu akan pergi dan menghilang di telan waktu? Aku sedih bila harus mengingatnya.

Ini bukan yang pertama tapi yang-kesekian-kalinya. Tapi anehnya masih saja seperti ini. Antara KITA tidak ada perubahan ,tak ada yang mampu mengalah ,mencari kambing hitam ,mencari kesalahan-kesalahan satu sama lain dan tak ada penyelesaian sama sekali.

Pernahkah kau berfikir bagaimana rasanya merindukan tulang rusukmu? Sama rasanya seperti apa yang ku rasakan saat ini.

1 komentar:

  1. rintik rintik bunyi hujan diatas rgenting,airnya tutun tidak kembali. [phon dan kebun basah semua.

    BalasHapus